Konsumsi penyedap rasa MSG / vetsin disebut dapat menyebabkan efek negatif pada jaringan otak dan menurunkan kemampuan konsentrasi. Namun, bukan berarti penggunaan penyedap rasa MSG dilarang. Berapa batas aman konsumsi penyedap rasa MSG yang termasuk dalam kategori tidak menyebabkan efek negatif?
Beberapa penelitian menjelaskan bahwa glutamat yang terkandung dalam MSG akan lebih lama dimetabolisme oleh tubuh jika dikonsumsi dalam keadaan terikat dengan makanan lain sehingga tidak banyak menimbulkan efek negatif. Penggunaan bumbu masak penyedap rasa sehari-hari tidak lantas mengganggu kecerdasan anak seperti yang dikhawatirkan para ibu selama ini. Asal dalam batas yang tidak berlebihan, konsumsi glutamat yang terkandung dalam penyedap rasa akan aman.
Jurnal Nutritional Science menyebutkan batas aman untuk mengkonsumsi MSG adalah 30 mg/kg BB/hari. Dalam kehidupan sehari-hari, batas tersebut setara dengan seperempat sendok teh MSG untuk membuat masakan 5 porsi sehingga tiap orang hanya akan mengkonsumsi 500 mg MSG dalam sekali makan atau 1500 mg MSG perhari.
Yuk mari kita mulai hidup sehat alami dari rumah tangga!
Temukan cara diet dan hidup sehat ala dokter yang terbukti secara ilmiah
Tuesday, May 27, 2014
Tuesday, October 22, 2013
Kekurangan Vitamin D Meningkatkan Risiko Anemia
Sebuah riset terbaru dari Johns Hopkins Children's Center menemukan fakta bahwa kekurangan vitamin D meningkatkan risiko anemia. Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Pediatrics ini merupakan penelitian pertama yang mengeksplorasi secara menyeluruh mengenai hubungan antara kadar vitamin D dan anemia pada anak-anak.
Para peneliti tersebut mengingatkan bahwa hasil penelitian ini tidak membuktikan adanya hubungan sebab akibat namun lebih menjelaskan mengenai hubungan antara kadar vitamin D dan hemoglobin. Beberapa mekanisme dapat menjelaskan mengenai hubungan kedua hal tersebut. Vitamin D ternyata mempengaruhi produksi sel darah merah dalam sumsum tulang. Begitu juga dengan regulasi sistem imun dan inflamasi, hal ini juga dipengaruhi oleh peran vitamin D. Seperti kita ketahui, regulasi imun dan inflamasi banyak berperan dalam terjadinya anemia.
Untuk menjelaskan interaksi antara kadar vitamin D dan kadar hemoglobin, para peneliti memeriksa sampel darah dari lebih dari 10ribu anak-anak. Secara konsisten terlihat bahwa pada anak-anak dengan kadar hemoglobin rendah ternyata juga memiliki kadar vitamin D yang rendah. Puncak munculnya anemia terjadi pada kadar vitamin D di bawah 30 ng/ml. Anak-anak yang memiliki kadar vitamin D di bawah 30 ng/ml memiliki risiko anemia dua kali lipat dibanding dengan anak-anak dengan kadar vitamin D normal.
Berdasarkan tingkat keparahannya, kekurangan vitamin D diklasifikasikan menjadi dua yaitu ringan dan berat. Defisiensi vitamin D ringan didefinisikan sebagai kadar vitamin D di bawah 30 ng/ml sedangkan defisiensi vitamin D berat memiliki kadar vitamin D dibawah 20 ng/ml. Implikasi dari penelitian ini adalah baik defisiensi vitamin D ringan maupun berat memerlukan penanganan yang tepat dengan suplementasi.
Para peneliti tersebut mengingatkan bahwa hasil penelitian ini tidak membuktikan adanya hubungan sebab akibat namun lebih menjelaskan mengenai hubungan antara kadar vitamin D dan hemoglobin. Beberapa mekanisme dapat menjelaskan mengenai hubungan kedua hal tersebut. Vitamin D ternyata mempengaruhi produksi sel darah merah dalam sumsum tulang. Begitu juga dengan regulasi sistem imun dan inflamasi, hal ini juga dipengaruhi oleh peran vitamin D. Seperti kita ketahui, regulasi imun dan inflamasi banyak berperan dalam terjadinya anemia.
Untuk menjelaskan interaksi antara kadar vitamin D dan kadar hemoglobin, para peneliti memeriksa sampel darah dari lebih dari 10ribu anak-anak. Secara konsisten terlihat bahwa pada anak-anak dengan kadar hemoglobin rendah ternyata juga memiliki kadar vitamin D yang rendah. Puncak munculnya anemia terjadi pada kadar vitamin D di bawah 30 ng/ml. Anak-anak yang memiliki kadar vitamin D di bawah 30 ng/ml memiliki risiko anemia dua kali lipat dibanding dengan anak-anak dengan kadar vitamin D normal.
Berdasarkan tingkat keparahannya, kekurangan vitamin D diklasifikasikan menjadi dua yaitu ringan dan berat. Defisiensi vitamin D ringan didefinisikan sebagai kadar vitamin D di bawah 30 ng/ml sedangkan defisiensi vitamin D berat memiliki kadar vitamin D dibawah 20 ng/ml. Implikasi dari penelitian ini adalah baik defisiensi vitamin D ringan maupun berat memerlukan penanganan yang tepat dengan suplementasi.
Saturday, August 31, 2013
Apakah Teh Hijau Membantu Menurunkan Berat Badan?

Zat aktif yang terdapat dalam teh hijau yang telah terbukti dapat menghambat penyerapan glukosa dan lipid , adalah jenis tertentu flavonoid yang disebut gallated catechin. Para penulis sebelumnya menyarankan bahwa jumlah gallated catechin diperlukan untuk mengurangi konsentrasi glukosa darah dapat dicapai dari dosis harian teh hijau . Namun, jumlah teh hijau yang dibutuhkan untuk mengurangi penyerapan lemak dari usus lebih tinggi dan telah terbukti memiliki efek yang merugikan pada manusia . Setelah dalam aliran darah , gallated catechin sebenarnya dapat meningkatkan resistensi insulin , yang merupakan konsekuensi negatif terutama pada pasien obesitas dan diabetes .
Untuk studi mereka , para peneliti menguji pengaruh ekstrak teh hijau pada berat badan dan intoleransi glukosa di kedua tikus diabetes dan tikus normal yang diberi diet tinggi lemak . Untuk mencegah dosis tinggi katekin gallated dari mencapai aliran darah , penulis juga menggunakan resin tidak beracun , polietilen glikol , untuk mengikat katekin gallated dalam usus untuk mencegah penyerapan mereka. Mereka kemudian melihat efek pada tikus makan ekstrak teh hijau saja , dan makan ekstrak teh hijau ditambah polietilen glikol . Mereka membandingkan ini terhadap efek dari dua obat terapi lainnya secara rutin diresepkan untuk diabetes tipe 2 .
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak teh hijau dalam isolasi tidak memberikan perbaikan dalam berat badan dan intoleransi glukosa . Namun, ketika ekstrak teh hijau diberikan dengan polyethylene glycol , ada penurunan yang signifikan dalam berat badan, resistensi insulin dan intoleransi glukosa di kedua tikus normal pada diet tinggi lemak dan tikus diabetes . Polyethylene glycol memiliki efek memperpanjang jumlah waktu katekin gallated tetap dalam usus , sehingga membatasi penyerapan glukosa untuk jangka waktu lama .
Menariknya , efek dari ekstrak teh hijau baik di usus dan dalam sirkulasi yang diukur pada dosis yang dapat dicapai dengan minum teh hijau setiap hari . Selain itu, efek dari ekstrak teh hijau sebanding dengan yang ditemukan saat mengambil dua obat yang saat ini direkomendasikan untuk diabetes non-insulin dependent .
Para penulis menyimpulkan bahwa " diet ekstrak teh hijau dan polyethylene glycol membantu dalam menurunkan bobot badan dan resistensi insulin pada tikus yang menderita diabetes. Oleh karena itu ekstrak teh hijau dan polyethylene glycol dapat menjadi alat pencegahan dan terapi untuk obesitas dan diabetes tipe 2 obese tanpa terlalu banyak kekhawatiran tentang efek samping . "
Monday, July 8, 2013
Khasiat Ubi Ungu, Tinggi Kandungan Zat Anti Kanker

Untuk membuktikan khasiat anti kanker yang dikandung ubi ungu tersebut, peneliti dari Kansas State menggunakan sel kanker kolon yang diberi zat anthocyanin. Ternyata, zat tersebut terbukti dapat menghambat pertumbuhan sel kanker. Namun, penelitian ini masih terbatas pada penelitian di laboratorium.
Yup, dengan melihat manfaat bagi kesehatan tersebut, jangan malu-malu untuk memperbanyak konsumsi makanan tradisional tersebut. Kita dapat mencegah kanker dengan memperbanyak konsumsi ubi ungu yang mengandung zat anti kanker tersebut. Dahulu, ubi ungu sering kali dikonsumsi dengan cara direbus atau digoreng. Namun, saat ini kita dapat mengkonsumsi ubi ungu dalam bentuk yang berbeda dan lebih menarik yaitu egg roll ubi ungu. Dengan adanya inovasi ini, kita tak perlu malu-malu lagi mengkonsumsi makanan tradisional ini. Egg roll ubi ungu khas yogyakarta ini merupakan trend baru dalam mengkonsumsi makanan sehat. Yuk mari hidup sehat dengan makanan sehat dan alami!
Subscribe to:
Posts (Atom)